bibliografi: hal. 245-250 indeks: hal. 251-256 Paradoks kebudayaan adalah bahwa kebudayaan merupakan entitas yang teramat konkrit sekaligus demikian abstrak. Ia konkrit karena sesungguhnya menyangkut apa pun yang nyaris ada dalam dunia-manusia. Demikian abstrak karena segala bentuk pewacanaan tentangnya telah berkembang menjadi begitu rumit, skeptis, dan penuh kontroversi. Siapa pun yang me…
bibliografi: hal. 185-186
Ada 4 macam politisi. Pertama, Parlemen patrimonial. Politisi ini mempunyai hubungan interpersonal dalam partai yang rendah, kurang pedulian pada fungsi parlemen. Biasanya ia memiliki koneksi ‘orang kuat’ di partai sehingga tidak merasa perlu untuk bekontribusi kepada partai karena posisinya dalam partai sudah aman. Kedua, Parlemen ABS. "Asal Bapak/Bunda Senang" menjelaskan anggota parlemen yan…
bibliografi: hal. 337-351 indeks: hal. 355-364 Jawa, sebagai sebuah peradaban, bertahan dengan sintesis spiritualnya terhadap peradaban dunia: Hindu-Budha dan Islam. Tetapi, mengapa gagap menghadapi penetrasi Barat? Upaya memilah Jawa dan non-Jawa selalu saja merupakan peristiwa politik. Dan itu berarti selalu ada yang ter(di)singkir(kan). Jawa yang takluk, atau Hindu-Budha, Islam, dan Bar…
bibliografi: hal. 335-349 indeks: hal. 351-354 Tujuan utama penelusuran buku ini adalah hendak meluruhkan kekakuan dari teleologi HI dengan memperkenalkan sejarah dan kesejarahan dari mana sumber kekakuan itu berasal, yang nantinya diharapkan dapat bermanfaat pula bagi upaya-upaya menjawab berbagai artikulasi krisis dan sosio-kultural yang kini sedang dihadapi dunia..
bibliografi: hal. 249-250 indeks: hal. 251-254 Buku ini merupakan sebuah pengantar untuk memahami hakikat manusia menurut pemikiran dan titik pandang beberapa filsuf dan aliran filsafat barat modern. Misalnya, August Comte, Wilhelm Dilthey, Descrates, Shcopenhauer, Nietzshe, Husserl, Heidegger, dan Sartre